REVIEW CERITA
Hafalan Sholat Delisa
Hafalan Sholat Delisa
Awal cerita dalam novel ini didahului oleh sebuah keluarga yang memiliki
seorang anak bernama Delisa. Delisa adalah anak kecil berumur 6 tahun
yang sedang berusaha menghafal bacaan shalatnya. Delisa selalu susah
untuk menghafal bacaan shalatnya. Setiap shalat Kak Aisyah membaca
keras-keras bacaan shalatnya agar Delisa lebih mudah untuk menghafal
bacaan shalatnya. Kak Aisyah selalu menjahili Delisa. Abi Delisa bekerja
di pertambangan minyak sehingga Abi Delisa pulang 1 bulan sekali.
singkat certa ketika Delisa sedang menjalani tes hafalan
bacaan shalat oleh Ibu Guru Nur. Ketika itu tiba-tiba saja kota Aceh
dilanda gempa yang sangat kuat. Gempa itu berskala 9.1 SR. Delisa yang
sedang tes tetap melanjutkannya, tidak peduli kondisi sekitar seperti
apa. Padahal semua murid yang sedang menunggu giliran sudah berhamburan
keluar sekolah. Namun Ibu Guru Nur tetap setia menemani Delisa. Setelah
gempa mereda, air laut seketika naik sangat tinggi, menyebabkan para
nelayan berlari kesana-kesini. Ternyata gempa itu disertai dengan
tsunami. Air dengan arus yang sangat dahsyat menerjang tubuh mungil
Delisa yang sedang menjalani tes. Abi yang tau berita ini lewat
televisi, langsung meminta cuti ke bosnya untuk kembali ke aceh dan
segera mengetahui kondisi keluarganya. Namun ketika Abi sampai di Aceh,
dia mendapat berita yang menyedihkan. Abi di beritahu oleh Koh Acan
bahwa semua anggota keluarganya telah meninggal. Hanya tinggal Delisa
sajalah yang sampai saat ini belum ditemukan juga.
Delisa telah merelakan kepergian
seluruh anggota keluarganya kecuali Abi. Delisa tidak akan pernah
membahas Ummi didepan Abi. Delisa tidak ingin membuat Abi sedih. Dan
semenjak kejadian itu Delisa lupa akan semua hafalan shalat yang pernah
ia hafal. Delisa berusaha untuk menghafalnya lagi namun hal terserbut
malah semakin sulit untuk dihafal.
Pada akhirnya, Delisa tersadar hal apa yang dapat membuat lupa akan
hafalan shalatnya itu. Hal itu adalah Delisa menghafal bacaan shalatnya
hanya demi mendapat kalung dari Ummi. Delisa menghafal bacaan shalatnya
agar mendapat imbalan dari Ummi. Dan sekarang Delisa sudah dapat
mengingat seluruh hafalan shalatnya karena Delisa memiliki satu niat,
yaitu ikhlas dalam melakukan apapun dan jangan mengharapkan suatu
imbalan.
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
Ibu guru Nur tetap setia menemani Delisa, sementara orang-orang pergi berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.
Budaya yang ada di dalam
novel ini adalah ketika semua anak Ummi Salamah telah lulus dalam
hafalan membaca shalatnya maka sebagai hadiahnya, Ummi membelikan sebuah
kalung sebagai hadiahnya. Hal ini dibuktikan dalam percakapan berikut :
"Delisa boleh pilih kalungnya sendiri, kan? Seperti punya Kak Fatimah, punya Kak Zahra atau, seperti punya Kak Aisyah!"
"Delisa boleh pilih kalungnya sendiri, kan? Seperti punya Kak Fatimah, punya Kak Zahra atau, seperti punya Kak Aisyah!"